PerihalNasional – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali mengambil langkah besar dalam kebijakan perdagangan internasional dengan mengumumkan tarif impor baru yang berdampak pada sejumlah negara mitra dagang, termasuk Indonesia. Kebijakan ini, yang merupakan bagian dari rencana ekonomi domestik, disebutkan bertujuan untuk “menyeimbangkan perdagangan global dan melindungi kepentingan sektor industri AS.”
Tarif impor tersebut terbagi dalam dua bagian. Pertama, tarif dasar sebesar 10% yang diterapkan secara seragam pada semua negara. Kedua, tarif tambahan yang dihitung berdasarkan perbedaan neraca perdagangan antara AS dan negara terkait. Negara-negara dengan defisit perdagangan besar terhadap AS, seperti Indonesia, dikenakan tarif tambahan yang cukup tinggi. Sebagai akibatnya, Indonesia menghadapi total tarif impor hingga 42% untuk beberapa produk yang diekspor ke pasar AS.

Keputusan ini menimbulkan reaksi beragam di seluruh dunia. Pelaku pasar merespons negatif dengan penurunan signifikan pada bursa saham global. Indeks S&P 500 di AS tercatat turun hampir 5% dalam satu hari, penurunan terbesar sejak 2020. Tidak hanya itu, pasar saham Asia, seperti Nikkei di Jepang dan ASX di Australia, juga terdampak oleh ketakutan akan terjadinya eskalasi perang dagang yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi global.
Di Indonesia, sektor industri ekspor mulai mengungkapkan kekhawatiran mereka. Produk-produk utama seperti tekstil, sepatu, furnitur, dan hasil pertanian yang biasa diekspor ke AS diperkirakan akan menghadapi kesulitan besar. Tingginya tarif impor ini akan menjadikan harga produk Indonesia kurang kompetitif dibandingkan negara lain yang tidak terpengaruh oleh kebijakan serupa.
Selain itu, nilai tukar rupiah juga diprediksi akan tertekan sebagai dampak dari kebijakan ini. Beberapa analis memperkirakan nilai tukar bisa menyentuh angka Rp17.000 per dolar AS jika ketegangan ekonomi ini tidak segera mereda. Kondisi ini tentu akan mempengaruhi berbagai sektor lain, termasuk impor bahan baku, biaya logistik, dan daya beli masyarakat.
Pemerintah Indonesia saat ini terus memantau situasi ini dengan seksama. Beberapa pejabat mengungkapkan bahwa mereka akan mencari alternatif strategi, seperti memperluas pasar ekspor ke wilayah Asia, Timur Tengah, dan Afrika, serta memperkuat sektor industri domestik agar tidak terlalu bergantung pada pasar AS. Opsi diplomasi perdagangan, baik melalui hubungan bilateral maupun melalui organisasi internasional seperti WTO, juga tetap terbuka.
Langkah tarif yang agresif dari Presiden Trump ini menandai perubahan besar dalam dinamika perdagangan global. Negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, harus lebih tangguh, kreatif, dan adaptif dalam merespons tantangan ekonomi global. Tanpa strategi yang tepat, kebijakan seperti ini dapat memberikan dampak jangka panjang yang merugikan perekonomian nasional.