PerihalOrganisasi – Sejak didirikan oleh Lafran Pane pada 14 Rabiul Awal 1366 H atau 5 Februari 1947, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) telah menempuh perjalanan panjang sebagai salah satu organisasi mahasiswa tertua dan paling berpengaruh di Indonesia. Hampir delapan dekade usia bukanlah sekadar hitungan waktu, melainkan jejak sejarah yang merekam dinamika pemikiran, perjuangan, dan pengabdian kadernya bagi umat dan bangsa.
Setiap awal Februari, atmosfer perguruan tinggi di Indonesia kerap diwarnai semangat “Hijau Hitam”. Momentum Dies Natalis HMI selalu hadir dengan gegap gempita, namun sejatinya perayaan milad bukan hanya soal seremoni, potong tumpeng, atau temu alumni. Lebih dari itu, Dies Natalis adalah ruang refleksi: sejauh mana HMI masih setia pada khitah perjuangannya.
Bagi kader HMI, momentum ini adalah saat yang tepat untuk bertanya pada diri sendiri—apakah komitmen keumatan dan kebangsaan masih benar-benar berdenyut dalam nadi perjuangan, atau justru mulai terkikis oleh rutinitas dan kepentingan pragmatis.
HMI dan Dua Komitmen Sejarah
Kelahiran HMI tidak dapat dilepaskan dari konteks sejarah bangsa. Pada masa awal kemerdekaan, Indonesia berada dalam situasi yang sangat krusial. Ancaman agresi militer Belanda masih nyata, sementara di dalam negeri dibutuhkan kekuatan intelektual muda yang mampu mengawinkan nilai keislaman dengan semangat nasionalisme.
Dalam kondisi itulah HMI hadir, membawa misi ganda yang kemudian dikenal sebagai Dua Komitmen HMI: Keislaman dan Kebangsaan. Dua komitmen ini bukan jargon kosong, melainkan fondasi ideologis yang menjadikan HMI mampu bertahan lintas rezim dan zaman.
Tema “Khidmat HMI untuk Indonesia” mencerminkan watak perjuangan tersebut. HMI tidak memilih jalan eksklusivisme, tetapi tampil inklusif dalam bingkai keindonesiaan, menjadikan Islam sebagai nilai etik yang menuntun pengabdian sosial dan kebangsaan.
Refleksi Filosofis di Usia 79 Tahun
Memasuki usia ke-79, HMI tidak cukup hanya merayakan panjangnya usia organisasi. Lebih penting dari itu adalah melakukan refleksi filosofis atas eksistensinya di tengah perubahan zaman yang semakin cepat dan kompleks.
Secara normatif, fondasi perjuangan HMI tertuang jelas dalam Pasal 4 Anggaran Dasar HMI, yang menegaskan tujuan organisasi:
“Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam, dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.”
Dari tujuan tersebut, setidaknya terdapat tiga dimensi penting yang relevan hingga hari ini.
Pertama, aspek ontologis.
HMI memandang mahasiswa sebagai agen perubahan yang memikul tanggung jawab ganda: tanggung jawab transendental kepada Tuhan dan tanggung jawab sosial kepada manusia.
Kedua, aspek epistemologis.
Melalui independensi etis dan organisatoris, kader HMI didorong untuk memiliki kebebasan berpikir, sikap kritis, serta keberanian melahirkan pembaruan di tengah stagnasi sosial.
Ketiga, makna “khidmat”.
Khidmat bukan sekadar kerja, melainkan sikap rendah hati dan totalitas dalam melayani kepentingan umat dan bangsa di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
Tantangan Zaman Digital
Merayakan Dies Natalis HMI di era sekarang berarti juga berbicara tentang tantangan baru: literasi digital, pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence) untuk riset sosial, hingga peran aktif dalam menjaga ruang siber dari polarisasi dan disinformasi yang menggerus persatuan bangsa.
Perjuangan hari ini tidak lagi hanya berlangsung di jalanan atau ruang diskusi fisik, tetapi juga di ruang digital. Harmoni perjuangan berarti pula harmoni narasi—bagaimana kader HMI mampu menjadi penyejuk, bukan justru memperuncing konflik identitas di dunia maya.
Pada akhirnya, HMI bukan sekadar organisasi tempat berkumpul. Ia adalah ruang pembelajaran nilai, etika, dan intelektualitas.
“HMI bukan hanya organisasi tempat berkumpul, tetapi universitas kedua yang mengajarkan cara mencintai Indonesia dengan cara yang paling cerdas.”
Di usia ke-79 tahun, tantangan HMI bukan lagi soal eksistensi, melainkan soal konsistensi: tetap khidmat, tetap kritis, dan tetap setia pada umat serta bangsa.