PerihalDaerah – Fenomena maraknya investasi digital yang menjerat masyarakat belakangan ini menjadi alarm serius bagi kondisi literasi finansial di Kabupaten Sumenep. Berbagai kasus yang terjadi menunjukkan bahwa sebagian masyarakat masih mudah tergiur janji keuntungan instan tanpa memahami risiko, legalitas, maupun mekanisme investasi yang sebenarnya.
Surni Tamim, Founder GenWork, menilai bahwa persoalan ini bukan sekadar soal penipuan semata, melainkan cerminan lemahnya literasi finansial di masyarakat. Di era digital saat ini, akses terhadap informasi memang semakin terbuka, namun tidak semua orang memiliki kemampuan untuk menyaring informasi tersebut secara rasional.
Menurutnya, fenomena ini juga tidak hanya menimpa masyarakat awam. Bahkan tidak jarang orang-orang dengan latar belakang pendidikan tinggi, termasuk dari kalangan aparatur pemerintahan, ikut terjebak dalam praktik seperti MLM maupun investasi bodong.
“Ini yang menjadi ironi. Kadang justru orang-orang yang secara pendidikan tinggi, bahkan dari kalangan pemerintah, bisa saja terjebak dalam skema seperti MLM atau investasi bodong. Padahal kalau bicara soal filter informasi, saya sendiri yang secara pendidikan mungkin lebih minim masih berusaha menyaring mana yang rasional dan mana yang tidak,” ujar Surni Tamim.
Ia menegaskan bahwa persoalan literasi finansial tidak bisa lagi dipandang sebagai isu kecil. Di tengah derasnya arus informasi dan tren finansial di media sosial, generasi muda sangat rentan terpengaruh oleh narasi kesuksesan instan. Fenomena FOMO (fear of missing out) sering kali membuat banyak orang terburu-buru mengambil keputusan finansial tanpa pertimbangan yang matang.
Kondisi ini, menurutnya, harus menjadi refleksi serius bagi semua pihak. Literasi finansial bukan hanya soal pendidikan formal, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat mampu memahami risiko, logika investasi, serta membangun pola pikir ekonomi yang sehat.
Surni Tamim juga menyinggung kasus yang sempat terjadi tahun lalu di wilayah kepulauan, tepatnya di Sapeken. Saat itu sejumlah masyarakat dilaporkan terjebak dalam investasi melalui aplikasi Kantar yang diduga menggunakan skema Ponzi scheme, dengan sasaran utama masyarakat awam yang tergiur iming-iming keuntungan cepat.
Dalam kasus tersebut, tidak hanya masyarakat biasa yang terdampak. Beberapa oknum dari kalangan pemerintahan juga disebut ikut terlibat dalam lingkaran promosi investasi tersebut. Banyak warga akhirnya mengalami kerugian hingga jutaan rupiah per orang karena kurangnya pemahaman mengenai risiko dan mekanisme investasi.
Menurutnya, kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan literasi finansial tidak bisa dilihat secara hitam putih dengan menyalahkan masyarakat semata.
“Kalau kita hanya menyalahkan masyarakat juga tidak tepat. Ketika yang mengajak atau merekomendasikan justru berasal dari orang yang dianggap punya posisi atau kepercayaan, otomatis masyarakat akan lebih mudah percaya. Di situ letak masalah literasinya, karena kepercayaan itu dianggap sudah punya nilai, padahal ujungnya malah sama-sama terjebak,” jelasnya.
Ia menilai bahwa jika kondisi ini terus dibiarkan, maka berbagai skema penipuan finansial hanya akan terus berganti nama dan bentuk, sementara korban akan terus berulang dari kelompok masyarakat yang sama.
Karena itu, upaya membangun kesadaran literasi finansial harus dimulai dari generasi muda. Anak muda tidak boleh hanya menjadi konsumen tren finansial digital, tetapi harus menjadi generasi yang mampu berpikir kritis, memahami risiko, dan membangun masa depan ekonomi secara lebih rasional dan berkelanjutan.